Beranda Administrasi Guru Download Buku Saku Panduan Evaluasi Penguatan Pendidikan Huruf Pdf

Download Buku Saku Panduan Evaluasi Penguatan Pendidikan Huruf Pdf

24
0
Download Buku Saku Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter pdf Download Buku Saku Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter pdf

Download Buku Saku Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter pdf


Bangsa besar ialah bangsa yang mempunyai huruf berpengaruh berdampingan dengan kompetensi yang tinggi, yang tumbuh dan berkembang dari pendidikan yang menyenangkan dan lingkungan yang menerapkan nilai-nilai baik dalam seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya dengan huruf yang berpengaruh dan kompetensi yang tinggilah jati diri bangsa menjadi kokoh, kerja sama dan daya saing bangsa meningkat sehingga bisa menjawab banyak sekali tantangan era kala 21.

Untuk itu, pendidikan nasional harus berfokus pada penguatan huruf di samping pembentukan kompetensi. Penguatan huruf bangsa menjadi salah satu butir Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Komitmen ini ditindaklanjuti dengan instruksi Presiden kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengutamakan dan membudayakan pendidikan huruf di dalam dunia pendidikan. Atas
dasar ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) secara sedikit demi sedikit mulai tahun 2016.

Baca Juga

Download Modul Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) untuk Guru

Berikut ialah link Download Buku Saku Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter pdf:

Berikut ialah kutipan dari Buku Saku Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter pdf tersebut:


ii Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Penasihat:
Pengarah:
Tim PPK
Tim Penyusun
Tim Pendukung
Editor Bahasa
Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Ketua : Dr. Arie Budhiman, M.Si., Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Karakter
Sekretaris : Prof. Dr. Ilza Mayuni, M.A., Kepala Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan
Koordinator SD : Drs. Wowon Widaryat, M.Si., Direktur Pembinaan Sekolah Dasar
Koordinator SMP : Dr. Supriano, M.Ed., Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama
Dr. Liliana Muliastuti, M.Pd.
TIM PENYUSUN BUK
Ir. Hendarman, M.Sc., Ph.D., Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan
Prof. Dr. Djoko Saryono, Universitas Negeri Malang
Prof. Dr. Supriyono, Universitas Negeri Malang
Prof. Dr. Waras Kamdi, Universitas Negeri Malang
Prof. Dr. Sunaryo, Universitas Pendidikan Indonesia
Latipun, Ph.D., Universitas Muhammadiyah Malang
Dr. Tulus Winarsunu, Universitas Muhammadiyah Malang
Dra. Hj. Lise Chamisijatin, M.Pd., Universitas Muhammadiyah Malang
Doni Koesoema A., M.Ed., Tenaga Ahli Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
Dr. Bambang Indriyanto, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan
Sri Hidayati, M.Si., Kepala Bidang Kurikulum, Pusat Kurikulum dan Perbukuan
Kurniawan, Kepala Bidang Pemantauan dan Evaluasi, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
Dr. Susanti Sufyadi, S.Pd., M.Si., Kepala Seksi Penilaian, Direktorat Pembinaan SD
Dra. Ninik Purwaning Setyorini, M.A., Kepala Seksi Pembelajaran, Direktorat Pembinaan SMP
Erry Utomo, Ph.D., Pusat Kurikulum dan Perbukuan
Odo Hadinata, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar
Lanny Anggraini, S.Pd., M.A., Direktorat Pembinaan SD
Heri Puspito Diyah Setiyorini, Tim Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Karakter
Alsha Kania, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
Tsalitsa Haura S., Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
.
1. Didik Suhardi, Ph.D. , Sekretaris Jenderal
2. Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D., Dirjen Dikdasmen
3. Sumarna Surapranata, Ph.D., Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan
4. Ir. Totok Suprayitno, Ph.D, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
5. Ir. Harris Iskandar, Ph.D, Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat
6. Hilmar Farid, Ph.D., Direktur Jenderal Kebudayaan
7. Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
8. Daryanto, Ak., MIS., Gdip.Com, QIA, CA., Inspektur Jenderal
9. Prof. Suyanto, Ph.D., Universitas Negeri Yogyakarta
10. Dr. James Modouw, M.MT., Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Pusat dan Daerah
11. Ir. Ananto Kusuma Seta, M.Sc., Ph.D., Staf Ahli Menteri Bidang Inovasi dan Daya Saing
12. Chatarina Muliana Girsang, S.H., S.E., M.H., Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi
13. R. Alpha Amirachman, M.Phil., Ph.D., Staf Khusus Menteri Bidang Monitoring Implementasi Kebijakan
14. Prof. Ir. Nizam, M.Sc. DIC., Ph.D., Plt. Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan
15. Dra. Poppy Dewi Puspitawati. M.A., Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar
16. Dra. Garti Sri Utami, M.Ed., Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan Dikdasmen
17. Dr. Sukiman, M.Pd., Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga
18. Dr. Biyanto, M.Ag., UIN Sunan Ampel
19. Dra. Arbayah Yusuf, M.A., UIN Sunan Ampel
TIM PPK Kemendikbud
Gedung A Lantai 2 Komplek Kemendikbud. Jl. Jendral Sudirman, Jakarta. Telp. (62-21) 57950176
Website: http://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id ; email: pendidikankarakter@kemdikbud.go.id
Fransisca Nur aini Krisna, S.Si., Apt. MPP., Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan
Kebudayaan Sri Fajar Martono, S.Psi., Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan
,
Putri Pandora, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
Fildzah Ikramina, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
Dwiyani Widhiharsi Kusuma Putri, Pusat Analisis dan sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
Rizki Muhammad Ramdhan, Tim Staf Ahli Materi Bidang Pembangunan Karakter
Shaskia Shinta Rialny, Tim Staf Ahli Materi Bidang Pembangunan Karakter
Rusprita Putri Utami, S.E., M.A., Kasubbag Tata Usaha, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
Muhammad Sopian, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
Marista Sinaga, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)
Sekretariat
Desain Sampul
Desain Tata Letak Zaitun Y.A Kherid, M.Pd.
Azis Purwanto,ST.
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter iii
Sambutan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia
Bangsa besar ialah bangsa yang mempunyai huruf kuat
berdampingan dengan kompetensi yang tinggi, yang tumbuh dan
berkembang dari pendidikan yang menyenangkan dan lingkungan yang
menerapkan nilai-nilai baik dalam seluruh sendi kehidupan berbangsa
dan bernegara. Hanya dengan huruf yang berpengaruh dan kompetensi yang
tinggilah jati diri bangsa menjadi kokoh, kerja sama dan daya saing bangsa
meningkat sehingga bisa menjawab banyak sekali tantangan era kala 21.
Untuk itu, pendidikan nasional harus berfokus pada penguatan karakter
di samping pembentukan kompetensi.
Penguatan huruf bangsa menjadi salah satu butir Nawacita yang
dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi
Mental (GNRM). Komitmen ini ditindaklanjuti dengan instruksi Presiden
kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengutamakan dan
membudayakan pendidikan huruf di dalam dunia pendidikan. Atas
dasar ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) secara sedikit demi sedikit mulai tahun 2016.
Penguatan Pendidikan Karakter bukanlah suatu kebijakan baru
sama sekali alasannya ialah semenjak tahun 2010 pendidikan huruf di sekolah sudah
menjadi Gerakan Nasional. Satuan pendidikan menjadi sarana strategis
bagi pembentukan huruf bangsa alasannya ialah mempunyai sistem, infrastruktur,
dan proteksi ekosistem pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia,
mulai dari perkotaan hingga pedesaan. Sudah banyak praktik baik yang
iv Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Saya mengucapkan terima kasih kepada Tim yang sudah menyusun
dan menerbitkan buku-buku Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang
terdiri dari Konsep dan Pedoman PPK, Panduan Penilaian PPK, Modul
Pelatihan PPK bagi Guru, Kepala Sekolah, Pengawas dan Komite Sekolah,
serta Pedoman Pelaksanaan Pelatihan Calon Pelatih PPK. Buku-buku ini
akan menjadi referensi bagi sekolah dan seluruh pemangku kepentingan
dalam mengimplementasikan penguatan pendidikan huruf di sekolah.
Saya berharap PPK sanggup terealisasi dengan baik dan menghimbau
proteksi orang tua, komite sekolah, pengawas, perguruan tinggi dan
masyarakat luas untuk memperlihatkan masukan bagi pelaksanaan dan
penyempurnaan kebijakan PPK ini.
Semoga PPK sanggup menumbuhkan semangat berguru dan
mengoptimalkan potensi penerima didik sehingga menjadi warga negara
yang mempunyai huruf kuat, menyayangi bangsanya dan bisa menjawab
tantangan era global. Selamat berkarya.
Muhadjir Effendy
dikembangkan sekolah, namun masih banyak pekerjaan rumah yang
harus dituntaskan untuk memastikan biar proses pembudayaan
nilai-nilai huruf berjalan dan berkesinambungan. Selain itu, sangat
diharapkan kebijakan yang lebih komprehensif dan bertumpu pada
kearifan lokal untuk menjawab tantangan zaman yang makin kompleks,
mulai dari duduk kasus yang mengancam keutuhan dan masa depan bangsa
hingga kepada persaingan global. Kebijakan ini akan menjadi dasar bagi
perumusan langkah-langkah yang lebih kasatmata biar penyemaian dan
pembudayaan nilai-nilai utama pembentukan huruf bangsa dapat
dilakukan secara efektif dan menyeluruh.
v
Sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan iii
Daftar Isi v
PENDAHULUAN 1
A. Tujuan Asesmen 1
B. Asesmen Awal 3
C. Prinsip-prinsip Penilaian 3
D. Metode Penilaian 4
E. Penilai PPK 5
F. Instrumen Penilaian PPK 5
G. Cara Menghitung Skor PP 6
H. Cara Membaca Skor Penilaian PPK 7
DAFTAR ISI
PENUTUP 32
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
vi Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter 1
PENDAHULUAN
A. Tujuan Asesmen
Panduan Penilaian Keberhasilan Penguatan Pendidikan Karakter
merupakan sebuah instrumen untuk menilai keberhasilan program
Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah. Panduan penilaian ini
merupakan pedoman umum yang dikeluarkan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan sebagai alat untuk membantu sekolah
mengevaluasi jadwal dan kegiatan PPK. Sebagai pedoman umum,
indikator-indikator dalam panduan penilaian memperlihatkan gambaran
umum wacana apa yang perlu dinilai. Sekolah diharapkan sanggup menyusun
pedoman penilaian tersendiri yang lebih kaya dengan indikator lebih
khusus sesuai dengan kebutuhan khas sekolah.
Ciri utama praksis pendidikan huruf ialah adanya otonomi
moral yang didukung oleh motivasi internal individu dalam melaksanakan
nilai-nilai moral. Dengan demikian, yang menjadi penilai ialah diri
sendiri berhadapan dengan nilai-nilai moral kemanusiaan universal
yang terpapar di hadapan individu. Karena itu, seseorang akan keliru
menilai kualitas pembentukan huruf seseorang kalau hanya melihat
dimensi luarnya saja. Ketika pendekatan ini diterapkan dalam sebuah
forum pendidikan, forum pendidikan sebagai tempat pembentukan
huruf perlu mempunyai otonomi moral kelembagaan, yang tampil dalam
diri para pelaku pendidikan. Otonomi moral dalam proses penilaian PPK
yang dimaksud ialah bahwa sekolah menilai diri sendiri sejauh mana
keberhasilan jadwal PPK yang telah mereka lakukan dengan melibatkan
seluruh pemangku kepentingan pendidikan (guru, siswa, orang tua, dan
komite sekolah).
2 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperlihatkan kepercayaan
dan ruang yang luas bagi sekolah untuk jujur dan objektif menilai sendiri
keberhasilan jadwal PPK di sekolahnya. Metode koreksi diri, mampu
menilai diri sendiri secara jujur dan objektif, merupakan bab dari
revolusi mental kelembagaan yang diharapkan sanggup melahirkan praksis
pendidikan yang mempunyai kualitas moral lebih kokoh. Karena itu, otonomi
sekolah untuk menilai keberhasilan PPK lebih diutamakan daripada
penilaian oleh instansi atau pelaku lain di luar sekolah, menyerupai pengawas
dari Dinas Pendidikan atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Penilaian jadwal PPK dilakukan di unit sekolah dilakukan secara
berkesinambungan, komprehensif, objektif, jujur dan transparan, serta
melibatkan para pemangku kepentingan pendidikan yang relevan.
Secara berkesinambungan berarti proses penilaian dilakukan secara
rutin, reguler, dan terpola dengan baik. Objektif berarti proses
penilaian dilakukan sesuai dengan data dan fakta. Jujur berarti proses
penilaian dilakukan dengan mengutamakan nilai-nilai kebenaran, tidak
memanipulasi data dan fakta. Transparan berarti proses penilaian
sanggup diverifikasi oleh pihak-pihak lain dan dilaporkan kepada seluruh
pemangku kepentingan pendidikan.
Indikator keberhasilan penilaian PPK dilakukan dengan mengacu
pada kriteria pengembangan pendidikan huruf utuh dan menyeluruh
menurut proses pengembangan dari tahap awal hingga evaluasi.
Karena itu, pada tahap awal, sekolah diminta menciptakan penilaian awal
(asesmen awal) pada tahap persiapan untuk menilai titik awal kondisi
forum pendidikan sebelum diadakan PPK. Kondisi awal ini perlu
dipetakan untuk melihat perkembangan-perkembangan yang ada setelah
jadwal PPK diterapkan.
Penilaian keberhasilan PPK dilakukan secara internal yang
melibatkan pemangku kepentingan (kepala sekolah, guru, wali murid,
dan komite sekolah) dan secara eksternal sanggup dilakukan oleh pihakpihak
dari luar sekolah yang mempunyai kepentingan bersama untuk
menyukseskan pelaksanaan Gerakan PPK di sekolah, contohnya tim penilai
dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, Dinas Pendidikan, dan
pengawas.
3
Penilaian dilakukan dengan mendasarkan diri pada Panduan
Penilaian PPK. Panduan Penilaian PPK merupakan indikator minimal
yang merepresentasikan tata cara pengelolaan dan implementasi PPK
sesuai dengan prinsip-prinsip implementasi PPK. Panduan Penilaian
PPK dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai
contoh untuk mengembangkan penilaian PPK di sekolah.
B. Asesmen Awal
Aspek-aspek yang perlu dilakukan pada tahap asesmen awal antara
lain: (1) kondisi-kondisi yang sanggup mendukung dan tidak mendukung
implementasi gerakan PPK di sekolah, baik kondisi yang berkaitan dengan
siswa, guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan: (2) iklim yang
aman di sekolah; (3) kebutuhan untuk menjadi lebih baik dari warga
sekolah; dan (4) proteksi yang diperoleh dari pemangku kepentingan,
contohnya dari pemerintah pusat/daerah, perguruan tinggi, komunitas,
perusahaan, dan perkumpulan atau organisasi yang ada di masyarakat.
Assesmen awal yang baik sanggup digunakan sebagai dasar dalam
memilih prioritas jadwal (lama program, cara melakukan, waktu
pelaksanaan, tujuan, pelaku yang terlibat, dana kegiatan, dan lain-lain).
C. Prinsip-Prinsip Penilaian
Penilaian jadwal PPK harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai
berikut.
Sekolah melaksanakan asesmen awal sebelum melaksanakan program
PPK sebagai sebuah dokumen tersendiri yang mengacu pada format
asesmen awal. Tujuan asesmen awal ialah untuk mempelajari kondisi
awal dan memastikan taraf kesiapan sekolah dalam menyusun
perencanaan dan pelaksanaan gerakan PPK di sekolah. Dengan
mengetahui potensi-potensi lingkungan yang tersedia sebagai kondisi
awal, sekolah sanggup menyusun gerakan PPK yang lebih realistis, sesuai
dengan kearifan nilai-nilai lokal, menghargai budaya setempat, dan
mendapatkan sumber daya material (keuangan) dan personalia yang
sesuai. Asesmen awal membantu sekolah memilih program-program
PPK yang tepat sasaran dalam membentuk branding sekolah.
Sasaran pelaksanaan penilaian gerakan PPK ialah seluruh
sekolah yang merencanakan dan melaksanakan kegiatan PPK.
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
4 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
1. Orientasi pada Proses
Panduan penilaian berorientasi pada proses berarti instrumen yang
dibuat, baik oleh sekolah maupun oleh pemerintah, bertujuan untuk
mengevaluasi proses pelaksanaan PPK, mulai dari asesmen kebutuhan
pada tahap awal, hingga proses penilaian keberhasilan pada akhir
program.
2. Acuan pada Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam panduan penilaian mengacu pada proses
pelaksanaan PPK secara utuh dan menyeluruh, mulai dari tahap awal,
yaitu asesmen awal hingga penilaian PPK.
3. Asas manfaat
Penilaian bertujuan biar sekolah memperoleh manfaat bagi perbaikan
selanjutnya. Proses penilaian dilaksanakan untuk menilai keterlaksanaan
dan kebermanfaatan PPK, bukan untuk mencari kesalahan. Indikatorindikator
penilaian di dalam rubrik bermanfaat untuk melaksanakan evaluasi
bagi pengembangan jadwal PPK di masa depan.
4. Jujur dan Objektif
D. Metode Penilaian
Cara melaksanakan penilaian PPK ialah melalui observasi
(pengamatan langsung) untuk mengumpulkan data, baik data-data
administratif maupun catatan-catatan pendukung untuk menilai sebuah
kegiatan. Observasi bisa dilakukan secara individual, kalau instansi yang
menilai ialah individu di luar sekolah, menyerupai pengawas, atau dari Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota. Bila sekolah yang melaksanakan penilaian diri,
sekolah bisa mempergunakan masukan data-data observasi dari anggota
komunitas sekolah (guru, siswa, dan lain-lain) untuk menjustifikasi
indikator keberhasilan sesuai dengan rubrik.
Penilaian dilakukan secara jujur dan objektif sesuai dengan apa
yang terjadi dan melaporkan hasil temuannya sesuai dengan kondisi
yang sebenarnya. Penilaian PPK mengutamakan kejujuran sekolah
dalam menilai alasannya ialah pendidikan huruf lebih menekankan
kemampuan forum mengevaluasi diri tanpa perlu pengawasan
dari pihak luar. Kemandirian, objektivitas, dan kejujuran dalam menilai
PPK ialah bab dari revolusi mental itu sendiri.
5
E. Penilai PPK
Penilai PPK ialah pihak sekolah yang melibatkan seluruh
pemangku kepentingan pendidikan. Untuk menjaga objektivitas,
penilaian keberhasilan PPK dilakukan minimal dengan melibatkan tiga
pemangku kepentingan utama pendidikan, yaitu sekolah, komite sekolah/
orangtua, dan pengawas. Perwakilan komunitas atau dinas bisa juga
dilibatkan untuk menciptakan penilaian PPK kalau dibutuhkan.
F. Instrumen Penilaian PPK
Instrumen penilaian PPK merupakan alat untuk mengukur
keberhasilan, mengevaluasi program, dan menjadi materi perbaikan
pengembangan PPK. Rubrik penilaian PPK merupakan isu untuk
menilai pengukuran keterlaksanaan implementasi PPK sesuai dengan
konsep pendidikan huruf utuh dan menyeluruh yang di setiap
indikatornya mencerminkan implementasi proses desain jadwal PPK.
Instrumen penilaian dipergunakan oleh sekolah, dinas pendidikan,
dan komunitas untuk menilai keberhasilan PPK menurut kriteria
keterlaksanaan prinsip-prinsip PPK dalam seluruh kegiatan di sekolah.
Data-data observasi dan data-data administratif digabungkan untuk
memperlihatkan justifikasi skoring sesuai rubrik pada indikator keberhasilan
PPK. Data-data manajemen berupa dokumen-dokumen pendukung
(tertulis dalam dokumen, atau dokumentasi dalam bentuk digital, seperti
video, foto, dan lain-lain).
Observasi yang dilakukan mencakup observasi lingkungan fisik
sekolah, lingkungan sosial sekolah, budaya, dan huruf sekolah.
Unsur-unsur tersebut sanggup diamati pada sarana dan prasarana sekolah,
proses belajar-mengajar di kelas, banyak sekali macam dokumentasi
pembelajaran (program tahunan, RPP, dan lain-lain), kegiatan kokurikuler,
ekstrakurikuler, dan kegiatan sehabis pembelajaran formal baik di
lingkungan sekolah maupun komunitas. Penilai juga sanggup melihat
dokumen-dokumen lain di sekolah yang mendukung penilaian pada
lembar observasi.
Kepala sekolah, komite sekolah, orang tua, dan pengawas
melaksanakan penilaian Penguatan Pendidikan Karakter dengan cara menilai
keberhasilan PPK mempergunakan isu dari rubrikasi penilaian
sebagai alat untuk membantu justifikasi indikator PPK.
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
6 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Instrumen ini juga sanggup menjadi sarana bagi pemilik, pengelola
sekolah, kepala sekolah, guru dan masyarakat untuk mengevaluasi dan
merefleksikan praktik-praktik PPK yang ada di sekolah, mengidentifikasi
keberhasilan kegiatan, mengevaluasi tujuan jangka pendek dan jangka
panjang, mengembangkan dan memperbaiki planning strategis sekolah di
masa depan.
G. Cara Menghitung Skor PPK
Cara-cara menghitung skor PPK dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
Kedua, penilai mengisi hasil skor dalam tabel rekapitulasi penilaian PPK.
Ketiga, cara menilai rerata ialah jumlah total seluruh item dalam satu
indikator penilaian yang sama dibagi dengan jumlah item. Sebagai contoh,
kita menilai indikator 1 wacana asesmen awal dengan data skor sebagai
berikut 3+4+2+3+3 =15. Total seluruh nilai pada indikator asesmen awal
ialah 15/5 = 3. Makara rerata pada indikator 1 wacana asesmen awal adalah
3.
Contoh simulasi:
Tabel Rekapitulasi Skor Penilaian
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
Nama Sekolah : Merah Putih
Penilai : Sekolah
Tanggal penilaian : 01 Januari 2016
#1 #2 #3 #4 #5 #6 Rerata
1. ASESMEN
AWAL
3 4 2 3 3 3
Keempat, cara yang sama digunakan untuk menilai seluruh indikator. Bila
seluruh rerata indikator sudah dijumlahkan, nilai total ialah jumlah total
rerata dibagi 10. Akan didapatkan skor antara (0 – 4).
Pertama, penilai memberi skor pada instrumen indikator keberhasilan PPK
di sekolah dengan mempergunakan panduan rubrikasi penilaian.
7
H. Cara Membaca Skor Penilaian PPK
Kualitas keberhasilan pelaksanaan PPK di sekolah dinilai berdasarkan
perhitungan skor seluruh indikator yang ada. Skor PPK sebuah sekolah
akan berkisar antara 0 – 4.
Cara membaca hasil skor PPK ialah sebagai berikut:
0 – 0,99 (E) : Banyak hal yang harus diperbaiki dalam pengembangan
PPK di Sekolah
sekolah
FORMAT ASESMEN AWAL
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH
Nama Sekolah :
Alamat :
Nama Kepala Sekolah :
Nomor HP :
E-mail :
1 – 1,99 (D) : Sudah mulai ada perjuangan mengembangkan PPK di sekolah
2 – 2,99 (C) : Praksis PPK sudah mulai terlihat di lingkungan sekolah
3,0 – 3,5 (B) : Praksis PPK di sekolah sudah menjadi kebiasaan
3,6 – 4,0 (A) : Praksis PPK sudah sangat istimewa dan menjadi budaya
PETUNJUK UMUM
Untuk memastikan pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) mulai dari
rancangan awal, pelaksanaan hingga evaluasi, sekolah perlu melihat potensi-potensi
yang mendukung pengembangan huruf dan yang kurang mendukung di sekolah
dan luar sekolah. Asesmen potensi ini merupakan langkah awal sebelum sekolah
tetapkan untuk mendesain jadwal PPK. Tujuan asesmen awal ialah biar sekolah
sanggup mengidentifikasi sumber-sumber daya sebanyak mungkin yang telah dan dapat
dipergunakan untuk mendukung implementasi PPK.
Isilah format di bawah ini dengan klarifikasi dan deskripsi secara detail sehingga
menggambarkan potensi awal yang menjadi modal sekolah dalam mengembangkan
PPK.
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
8 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
NO KOMPONEN ASESMEN DESKRIPSI
Internal
1 Identifikasi potensi aset budaya (misal:
budaya bersih, kerja keras, gotong royong,
regilius, dan sejenisnya) sekolah yang sudah
ada kini ini.
2 Keunikan sekolah yang bisa menjadi modal
PPK (nilai-nilai utama PPK dan nilai-nilai khas
yang relevan dengan lingkungan sekolah itu
berada).
3 Potensi SDM yang ada di sekolah (kepala
sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa).
4 Identifikasi potensi sumber pembiayaan di
sekolah.
5 Identifikasi potensi sarana prasana yang ada
di sekolah.
6 Identifikasi jadwal pendidikan karakter
yang sudah ada di sekolah.
7 Identifikasi tata kelola sekolah (tata peraturan
yang sudah ada, kebijakan-kebijakan yang
mendukung,mekanisme evaluasi, pembagian
peranan, dan lain-lain).
Eksternal
8 Identifikasi potensi lingkungan sosial budaya
(gotong royong, agamis, seni, agraris, dan
sejenisnya) di luar sekolah yang mendukung
PPK.
9 Potensi SDM (seniman, ulama, tokoh adat,
wirausahawan, dan sejenisnya) yang ada di
sekitar lingkungan sekolah.
10 Identifikasi pesan-pesan moral, kearifan lokal
dan sejenisnya yang ada di masyarakat yang
mendukung implementasi PPK.
12 Identifikasi potensi sumber pembiayaan
(finansial, tenaga, sarana, bahan, dan lainlain)
dari masyarakat.
11 Identifikasi proteksi para pemangku
kepentingan (dunia usaha/dunia industri,
pemda, forum keagamaan, dan komunitas
lainnya) terhadap implementasi PPK.
9
Indikator Keberhasilan Pelaksanaan PPK di Sekolah
NO KOMPONEN
SKOR
0 1 2 3 4
1. ASESMEN AWAL
1 Sekolah mengidentifikasi sumber-sumber berguru dan
sarana prasarana di dalam dan luar sekolah.
2 Sekolah mengidentifikasi sumber daya insan yang
tersedia di sekolah dan luar sekolah.
4 Sekolah mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan
PPK.
5 Sekolah mengidentifikasi tata kelola sekolah.
2. SOSIALISASI PPK KEPADA PARA PEMANGKU KEPENTINGAN PENDIDIKAN
8 Sekolah memilih nilai-nilai khas sesuai dengan latar
belakang sosial budaya setempat (gotong royong, agamis,
seni, agraris, dan sejenisnya).
3. VISI, MISI DAN PERUMUSAN
9 Program Penguatan Pendidikan Karakter terintegrasi
dalam rumusan visi misi dan dokumen kurikulum Sekolah
(visi, misi, silabus, skenario pembelajaran, strategi, konten,
media, dan penilaian).
11 Rumusan nilai-nilai utama huruf oleh sekolah sejalan
dengan semangat globalisasi, mengadopsi nilai-nilai
keutamaan lokal, dan sejalan dengan perkembangan anak.
4. DESAIN KEBIJAKAN PPK
12 Sekolah mendefinisikan dan memilih peranan masingmasing
pihak dalam pengembangan PPK.
13 Kebijakan dan peraturan sekolah mendukung
implementasi PPK (kebijakan wacana mencontek, sanksi,
apresiasi, dan lain-lain).
3 Sekolah mengidentifikasi potensi budaya dan karakter
yang ada di sekolah dan luar sekolah.
6 Sekolah melaksanakan sosialisasi PPK kepada para pemangku
kepentingan pendidikan (pejabat struktural, guru, Komite
sekolah, orang tua/wali siswa, siswa, DU/DI, lembaga
swadaya masyarakat yang relevan, dan masyarakat
lainnya).
7 Perumusan prioritas nilai-nilai utama PPK di sekolah
melibatkan semua pemangku kepentingan pendidikan
(pejabat struktural, guru, komite sekolah, orang tua/wali
siswa, siswa, DU/DI, forum swadaya masyarakat yang
relevan, dan masyarakat lainnya).
10 Sekolah mengaitkan nilai-nilai utama PPK yang lain
dengan prioritas nilai utama yang dipilih dan
dikembangkan (religius, nasionalis, integritas, gotong
royong, dan mandiri).
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
10 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
NO KOMPONEN
SKOR
0 1 2 3 4
14 Sekolah mengembangkan semangat inklusivitas dalam
pengelolaan pendidikan bagi penerima didik penyandang
disabilitas (berkebutuhan khusus).
5. DESAIN PROGRAM
15 Sekolah mengembangkan jadwal PPK secara seimbang
antara olah raga, olah pikir, olah rasa, dan olah hati.
16 Sekolah memakai potensi lingkungan sebagai
ekstensi ruang pembelajaran sehingga pembelajaran
berlangsung dalam kehidupan yang luas.
17 Sekolah mempunyai jadwal unggulan PPK dengan
mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK dalam setiap
acara pembelajaran (intrakurikuler dan kokurikuler).
18 Sekolah mempunyai jadwal bersifat kesukarelawanan
(volunter).
19 Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler mendukung
pengembangan branding sekolah.
20 Program PPK sesuai dengan tahap perkembangan usia
penerima didik.
21 Sekolah mempunyai kegiatan adaptasi untuk
menanamkan nilai-nilai utama PPK.
6. PPK BERBASIS KELAS
22 Guru mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK dalam desain
planning pelaksanaan pembelajaran (RPP).
23 Guru mengembangkan skenario pembelajaran yang dapat
memperkuat nilai-nilai karakter.
24 Guru mengaitkan isi materi pembelajaran dengan
duduk kasus kehidupan sehari-hari.
25 Sekolah mengembangkan kapasitas guru secara
berkelanjutan (pelatihan, lesson studies, berbagi
pengalaman, dan lain-lain).
7. PENGEMBANGAN BUDAYA SEKOLAH
26 Sekolah mempunyai dan mengembangkan tradisi-tradisi
unggulan yang memperkuat budaya sekolah.
27 Sekolah mengembangkan dan mengapresiasi kearifan
lokal.
28 Sekolah mengembangkan budaya berguru yang
menumbuhkan keterampilan kala 21 (berpikir kritis,
kreatif, komunikasi dan kolaborasi, literasi multimedia).
29 Bimbingan konseling mempunyai program-program yang
relevan yang mendukung penguatan PPK di tingkat
kelas, pengembangan budaya sekolah dan pelibatan
masyarakat.
8. PARTISIPASI MASYARAKAT
11
NO KOMPONEN
SKOR
0 1 2 3 4
30 Sekolah mengembangkan kapasitas orangtua,
paguyuban wali murid dan komite sekolah biar mereka
sanggup berfungsi secara efektif dalam mendukung dan
memperkuat jadwal PPK di sekolah melalui dukungan
pikiran, tenaga, materi, dan finansial.
31 Komite sekolah berperan aktif dalam mendukung program
PPK.
33 Masyarakat aktif memperlihatkan umpan balik dalam rangka
penilaian dan perbaikan pelaksanaan PPK.
34 Sekolah memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran di
luar lingkungan sekolah secara maksimal dan efektif.
35 Sekolah mempunyai sumber-sumber pendanaan dari
masyarakat untuk mengembangkan PPK.
9. IMPLEMENTASI NILAI-NILAI UTAMA
36 Sekolah mempunyai kegiatan untuk mengembangkan
dimensi religiusitas penerima didik sesuai dengan agama
dan kepercayaannya, menumbuhkan sikap toleran
dan kemampuan bekerja sama antarumat beragama dan
penganut kepercayaan.
37 Sekolah mengembangkan kegiatan-kegiatan yang
menumbuhkan semangat nasionalisme.
38 Sekolah mengembangkan kegiatan-kegiatan yang
menumbuhkan kemandirian penerima didik.
39 Sekolah mengembangkan kegiatan dan jadwal yang
merepresentasikan semangat gotong royong.
40 Sekolah mempunyai norma-norma dan peraturan yang baik
untuk menumbuhkan nilai-nilai integritas dan kejujuran
dalam diri penerima didik.
10. EVALUASI PPK
41 Sekolah mempunyai instrumen untuk mengukur dan
mendokumentasikan keberhasilan jadwal PPK.
42 Kepala sekolah, guru, orang bau tanah dan komite sekolah
melaksanakan kegiatan monitoring PPK secara rutin dan
berkelanjutan.
43 Sekolah mempunyai mekanisme umpan balik di antara
penerima didik untuk memperbaiki sikap individu dan
budaya sekolah.
32 Ada pelibatan masyarakat (paguyuban orang bau tanah siswa,
komite sekolah, tokoh masyarakat, pelaku seni dan
budaya, DU/DI, perguruan tinggi, ikatan alumni, media,
dan forum pemerintah) dalam kegiatan Penguatan
Pendidikan Karakter.
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
12 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
NO KOMPONEN
SKOR
0 1 2 3 4
44 Sekolah menindaklanjuti hasil monitoring untuk
memperbaiki pelaksanaan kegiatan PPK.
46 Sekolah melibatkan seluruh sumber daya insan yang
tersedia dalam PPK.
47 Sekolah memakai sarana dan prasarana (lapangan
olah raga, alat-alat kesenian, dan lain-lain) secara efektif.
49 Gerakan PPK meningkatkan prestasi akademik dan
membangun budaya berguru mandiri.
Catatan penting yang perlu diperhatikan dalam evaluasi:
45 Sekolah memakai dokumentasi dan data-data
pendukung (presensi siswa, catatan harian sekolah,
notulensi rapat, dan lain-lain) untuk menilai pelaksanaan
dan keberhasilan jadwal PPK.
48 Sekolah memanfaatkan banyak sekali media pembelajaran PPK
(papan sekolah aman, poster, spanduk, website, buletin,
mading, dan lain-lain).
13
Nama Sekolah :
Penilai :
Tanggal Penilaian :
Tabel Rekapitulasi Skor Penilaian
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
#
1
#
2
#
3
#
4
#
5
#
6
#
7
#
8
#
9
Rerata
1. ASESMEN AWAL
2. SOSIALISASI PPK
KEPADA PARA
PEMANGKU
KEPENTINGAN
PENDIDIKAN
3. VISI, MISI DAN
PERUMUSAN
4. DESAIN KEBIJAKAN
PPK
5. DESAIN PROGRAM
6. PPK BERBASIS KELAS
7. PENGEMBANGAN
BUDAYA SEKOLAH
8. PARTISIPASI
MASYARAKAT
9. IMPLEMENTASI NILAINILAI
UTAMA
10. EVALUASI PPK
TOTAL NILAI
(Rerata dijumlahkan
dibagi 10)
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
14 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Rubrik Penilaian PPK
No 1. ASESMEN AWAL 0 1 2 3 4
1 Sekolah mengidentifikasi sumber-sumber berguru dan
sarana prasarana di dalam dan luar sekolah.
Keterangan
No 0 1 2 3 4
2 Sekolah mengidentifikasi sumber daya insan yang
tersedia di sekolah dan luar sekolah
Keterangan
0 – Sekolah tidak melaksanakan identifikasi
1 – Sekolah mengidentifikasi minimal 1 SDM di sekolah
2 – Sekolah mengidentifikasi minimal 4 SDM di sekolah dan luar sekolah
3 – Sekolah mengidentifikasi minimal 6 SDM di sekolah dan luar sekolah
4 – Sekolah mengidentifikasi minimal 10 SDM di sekolah dan luar sekolah
No 0 1 2 3 4
No 0 1 2 3 4
4 Sekolah mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan PPK.
Keterangan
0 – Sekolah tidak melaksanakan identifikasi sumber-sumber pembiayaan PPK
1 – Sekolah mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan dari pemerintah
2 – Sekolah mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan dari pemerintah dan orangtua
siswa
3 – Sekolah mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan dari pemerintah, orangtua
siswa, dan dunia perjuangan (CSR)
4 – Sekolah mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan melibatkan partisipasi seluruh
stakeholder (orangtua, pemerintah, dunia usaha, masyarakat lainnya)
0 – Sekolah tidak melaksanakan identifikasi
1 – Sekolah mengidentifikasi minimal 1 sumber berguru dan sarana prasarana di sekolah
2 – Sekolah mengidentifikasi minimal 4 sumber berguru di sekolah dan luar sekolah
3 – Sekolah mengidentifikasi minimal 6 sumber berguru di sekolah dan luar sekolah
4 – Sekolah mengidentifikasi minimal 10 sumber berguru di sekolah dan luar sekolah
3 Sekolah mengidentifikasi potensi huruf dan
budaya yang tersedia di sekolah dan luar sekolah.
Keterangan
0 – Sekolah tidak melaksanakan identifikasi
1 – Sekolah mengidentifikasi minimal 1 potensi huruf dan budaya di sekolah
2 – Sekolah mengidentifikasi minimal 4 potensi huruf dan budaya di sekolah dan luar sekolah
3 – Sekolah mengidentifikasi minimal 6 potensi huruf dan budayadi sekolah dan luar sekolah
4 – Sekolah mengidentifikasi minimal 10 potensi huruf dan budaya di sekolah dan luar sekolah
15
No 0 1 2 3 4
5 Sekolah mengidentifikasi tata kelola sekolah.
Keterangan
0 – Tidak melaksanakan identifikasi
1 – Sekolah memiliki: kebijakan dan peraturan-peraturan
2 – Sekolah memiliki: kebijakan, peraturan-peraturan, visi misi dan tahapan
pencapaiannya
3 – Sekolah memiliki: kebijakan, peraturan-peraturan, visi misi dan tahapan
pencapaiannya, mekanisme kerja/SOP, mekanisme evaluasi
4 – Sekolah memiliki: kebijakan, peraturan-peraturan, visi misi dan tahapan
pencapaiannya, mekanisme kerja/SOP, pembagian peran, penggunaan teknologi dan
mekanisme evaluasi
No 2. SOSIALISASI PPK KEPADA PARA PEMANGKU
KEPENTINGAN PENDIDIKAN
0 1 2 3 4
Keterangan
0 – Sekolah tidak melaksanakan sosialisasi
1 – Sekolah melaksanakan sosialisasi PPK kepada sebagian kecil pemangku kepentingan
pendidikan (pejabat struktural, guru, Komite sekolah, siswa)
3 – Sekolah melaksanakan sosialisasi PPK kepada sebagian besar pemangku kepentingan
pendidikan (pejabat struktural, guru, komite sekolah, orang tua/wali siswa, siswa, dan
masyarakat lainnya)
No 0 1 2 3 4
Keterangan
0 – Sekolah tidak melibatkan pemangku kepentingan dalam perumusan prioritas nilai
utama PPK
1 – Perumusan prioritas nilai-nilai utama PPK di sekolah melibatkan sebagian kecil
pemangku kepentingan pendidikan (pejabat struktural, guru, siswa)
2 – Perumusan prioritas nilai-nilai utama PPK di sekolah melibatkan sebagian pemangku
kepentingan pendidikan (pejabat struktural, guru, komite sekolah, siswa)
pendidikan (pejabat struktural, guru, siswa)
2 – Sekolah melaksanakan sosialisasi PPK kepada sebagian pemangku kepentingan
6 Sekolah melaksanakan sosialisasi PPK kepada para pemangku
kepentingan pendidikan (pejabat struktural, guru, komite
sekolah, orang tua/wali siswa, siswa, DU/DI, lembaga
swadaya masyarakat yang relevan, dan masyarakat
lainnya).
4 – Sekolah melaksanakan sosialisasi PPK kepada semua pemangku kepentingan
pendidikan (pejabat struktural, guru, komite sekolah, orang tua/wali siswa, siswa,
DU/DI, forum swadaya masyarakat yang relevan, dan masyarakat lainnya)
7 Perumusan prioritas nilai-nilai utama PPK di sekolah
melibatkan semua pemangku kepentingan pendidikan
(pejabat struktural, guru, komite sekolah, orang tua/wali
siswa, siswa, DU/DI, forum swadaya masyarakat yang
relevan, dan masyarakat lainnya).
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
16 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
3 – Perumusan prioritas nilai-nilai utama PPK di sekolah melibatkan sebagian besar
pemangku kepentingan pendidikan (pejabat struktural, guru, komite sekolah, orang
tua/wali siswa, siswa, dan masyarakat lainnya)
No 0 1 2 3 4
8 Sekolah memilih nilai-nilai khas sesuai dengan latar
belakang sosial budaya setempat (gotong royong, agamis,
seni, agraris, dan sejenisnya).
budaya setempat
3 – Sekolah memilih sebagian besar nilai-nilai khas sesuai dengan latar belakang
sosial budaya setempat
4 – Sekolah memilih semua nilai-nilai khas sesuai dengan latar belakang sosial
budaya setempat
No 3. VISI, MISI DAN PERUMUSAN 0 1 2 3 4
9 Program Penguatan Pendidikan Karakter terintegrasi
dalam rumusan visi misi dan dokumen kurikulum sekolah
(visi, misi, silabus, skenario pembelajaran, strategi, konten,
media, dan penilaian).
No 0 1 2 3 4
Keterangan
0 – Sekolah tidak mengaitkan nilai utama dengan prioritas nilai sekolah
4 – Perumusan prioritas nilai-nilai utama PPK di sekolah melibatkan semua pemangku
kepentingan pendidikan (pejabat struktural, guru, komite sekolah, orang tua/
wali siswa, siswa, DU/DI, forum swadaya masyarakat yang relevan, dan
masyarakat lainnya).
2 – Sekolah memilih beberapa nilai-nilai khas sesuai dengan latar belakang sosial
Keterangan
0 – Sekolah tidak menyesuaikan nilai khas dengan latar belakang sosial budaya setempat
1 – Sekolah memilih sebagian kecil nilai-nilai khas sesuai dengan latar
belakang sosial budaya setempat
visi misi dan dokumen Kurikulum Sekolah
Keterangan
0 – Program Penguatan Pendidikan Karakter tidak terintegrasi dalam rumusan visi dan misi
1 – Program Penguatan Pendidikan Karakter sebagian kecil terintegrasi dalam rumusan visi
misi dan dokumen Kurikulum Sekolah
2 – Program Penguatan Pendidikan Karakter sebagian terintegrasi dalam rumusan visi misi
3 – Program Penguatan Pendidikan Karakter sebagian besar terintegrasi dalam rumusan visi
misi dan dokumen Kurikulum Sekolah
4 – Program Penguatan Pendidikan Karakter semua terintegrasi dalam rumusan
10 Sekolah mengaitkan nilai-nilai utama PPK yang lain dengan
prioritas nilai utama yang dipilih dan dikembangkan
(religius, nasionalis, integritas, gotong royong, dan mandiri).
17
1 – Sekolah mengaitkan sebagian kecil nilai-nilai utama PPK lain dengan prioritas nilai
utama yang dipilih dan dikembangkan
2 – Sekolah mengaitkan sebagian nilai-nilai utama PPK lain dengan prioritas nilai utama
yang dipilih dan dikembangkan
3 – Sekolah mengaitkan sebagian besar nilai-nilai utama PPK lain dengan prioritas nilai
utama yang dipilih dan dikembangkan
4 – Sekolah mengaitkan semua nilai-nilai utama PPK lain dengan prioritas nilai utama
yang dipilih dan dikembangkan
No 0 1 2 3 4
11 Rumusan nilai-nilai utama huruf oleh sekolah sejalan
dengan semangat globalisasi, mengadopsi nilai-nilai
keutamaan lokal, dan sejalan dengan perkembangan anak.
Keterangan
0 – Sekolah tidak melaksanakan perumusan nilai-nilai utama karakter
1 – Rumusan nilai-nilai utama huruf sesuai dengan semangat globalisasi, atau nilai-nilai
keutamaan lokal
2 – Rumusan nilai-nilai utama huruf sesuai dengan semangat globalisasi, dan nilai-nilai
keutamaan lokal
3 – Rumusan nilai-nilai utama huruf sesuai dengan semangat globalisasi, nilai-nilai
keutamaan lokal, dan perkembangan anak.
4 – Rumusan nilai-nilai utama huruf menyelaraskan nilai-nilai keutamaan lokal dengan
semangat globalisasi, dan perkembangan anak.
No 4. DESAIN KEBIJAKAN PPK 0 1 2 3 4
12 Sekolah mendefinisikan dan memilih peranan masingmasing
pihak dalam pengembangan PPK.
Keterangan
0 – Sekolah tidak merumuskan peranan masing-masing pelaku pendidikan dalam PPK
1 – Sekolah hanya mendefinisikan peranan masing-masing pihak dalam PPK
2 – Sekolah mendefinisikan peranan dan menciptakan mekanisme kerja
3 – Sekolah mendefinisikan peranan, merumuskan mekanisme kerja dan pembagian
tugas
4 – Sekolah mendefinisikan peranan masing-masing individu, merumuskan mekanisme
kerja, pembagian tugas, deskripsi kiprah dan jalur komunikasi biar peranan masingmasing
pihak semakin maksimal
No 0 1 2 3 4
13 Kebijakan dan peraturan sekolah mendukung implementasi
PPK (kebijakan wacana mencontek, sanksi, apresiasi, dan
lain-lain).
Keterangan
0 – Tidak mempunyai kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan
1 – Sekolah mempunyai kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang mendukung PPK
tetapi belum diterapkan secara efektif.
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
18 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
3 – Sekolah mempunyai kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang mendukung
implementasi PPK dan diterapkan sebagian besar peraturan secara efektif.
4 – Sekolah memiliki, mengimplementasikan kebijakan-kebijakan dan peraturanperaturan
secara sistemik yang mendukung implementasi PPK secara efektif.
No 0 1 2 3 4
14 Sekolah mengembangkan semangat inklusivitas dalam
pengelolaan pendidikan bagi penerima didik penyandang
disabilitas (berkebutuhan khusus).
Keterangan
0 – Sekolah tidak melaksanakan pendidikan inklusi, bangunan sekolah tidak ramah
penyandang disabilitas (anak berkebutuhan khusus)
1 – Bangunan sekolah ramah terhadap penyandang disabilitas (anak berkebutuhan
2 – Bangunan sekolah ramah terhadap penyandang disabilitas (anak berkebutuhan
khusus), sekolah mendapatkan penerima didik penyandang disabilitas (anak berkebutuhan
khusus) dan memperlihatkan fasilitas dan pembelajaran terindividualisasi dalam
proses pembelajaran
3 – Bangunan sekolah ramah terhadap penyandang disabilitas (anak berkebutuhan
khusus), sekolah mendapatkan penerima didik penyandang disabilitas (anak berkebutuhan
khusus), memperlihatkan fasilitas dalam pembelajaran dengan metode individualisasi,
serta menyediakan guru khusus untuk melayani penerima didik penyandang disabilitas
4 – Bangunan sekolah ramah terhadap penyandang disabilitas, sekolah memiliki
kebijakan khusus wacana anak berkebutuhan khusus, ada guru yang memiliki
kompetensi khusus untuk menangani penerima didik berkebutuhan khusus, para guru
memperlihatkan fasilitas dan pembelajaran terindividualisasi terhadap penyandang
disabilitas (anak-anak berkebutuhan khusus), lingkungan budaya sekolah
memperlihatkan penghormatan dan penghargaan terhadap penyandang disabilitas dan
belum dewasa berkebutuhan khusus.
No 5. DESAIN PROGRAM 0 1 2 3 4
15 Sekolah mengembangkan jadwal PPK secara seimbang
antara olah raga, olah pikir, olah rasa, dan olah hati.
secara harmonis dan seimbang, melalui kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler
2 – Sekolah mempunyai kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang mendukung
implementasi PPK dan diterapkan sebagian kecil peraturan secara efektif.
khusus), sekolah mendapatkan penerima didik penyandang disabilitas (anak
berkebutuhan khusus) dan memperlakukan mereka sama dengan belum dewasa lain
dalam pembelajaran
Keterangan
0 – Sekolah belum mengembangkan jadwal PPK
1 – Sekolah mengembangkan jadwal olah pikir
2 – Sekolah mengembangkan jadwal olah pikir dan olah raga
3 – Sekolah mengembangkan jadwal olah pikir, olah raga, dan olah hati
4 – Sekolah mengembangkan jadwal olah pikir, olah raga, olah hati, dan olah rasa
19
No 0 1 2 3 4
16 Sekolah memakai potensi lingkungan sebagai
ekstensi ruang pembelajaran sehingga pembelajaran
berlangsung dalam kehidupan yang luas.
Keterangan
0 – Sekolah belum memanfaatkan potensi lingkungan sebagai sumber belajar
1 – Sekolah memanfaatkan potensi lingkungan fisik dalam sekolah sebagai sumber
No 0 1 2 3 4
17 Sekolah mempunyai jadwal unggulan PPK dengan
mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK dalam setiap
acara pembelajaran (intrakurikuler dan kokurikuler).
Keterangan
0 – Sekolah tidak mempunyai jadwal unggulan
1 – Sekolah mempunyai jadwal unggulan
2 – Sekolah mempunyai jadwal unggulan, terintegrasi dalam pembelajaran di kelas, namun
belum mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK
3 – Sekolah mempunyai jadwal unggulan PPK yang terintegrasi dalam pembelajaran di
dalam kelas
4 – Sekolah mempunyai jadwal unggulan PPK yang terintegrasi dalam keseluruhan
acara pembelajaran (intrakurikuler dan ko-kurikuler)
No 0 1 2 3 4
18 Sekolah mempunyai jadwal bersifat kesukarelawanan
(volunter).
didik untuk melaksanakan kegiatan di dalam dan di luar sekolah
3 – Sekolah mempunyai jadwal kesukarelawanan rutin yang berasal dari inisiatif peserta
didik untuk melaksanakan kegiatan di dalam dan di luar sekolah, sekolah juga memiliki
jadwal yang ditawarkan pada penerima didik namun peminatnya masih sedikit
4 – Sekolah mempunyai jadwal kesukarelawanan rutin yang berasal dari inisiatif peserta
didik untuk melaksanakan kegiatan di dalam sekolah dan di luar sekolah, memiliki
tawaran kegiatan kesukarelawanan terprogram dan mempunyai banyak peminat
belajar
2 – Sekolah memanfaatkan potensi lingkungan fisik dan sosio-kultural di dalam sekolah
sebagai sumber belajar
3 – Sekolah memanfaatkan potensi lingkungan fisik baik di dalam maupun di luar sekolah
sebagai sumber belajar
4 – Sekolah memanfaatkan potensi lingkungan fisik dan sosio-kultural baik di dalam maupun
di luar sekolah sebagai sumber belajar
0 – Sekolah tidak mempunyai jadwal kesukarelawanan
1 – Sekolah mempunyai jadwal kesukarelawanan rutin yang berasal dari inisiatif penerima didik
untuk melaksanakan kegiatan di lingkungan sekolah
2 – Sekolah mempunyai jadwal kesukarelawanan rutin yang berasal dari inisiatif peserta
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
20 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
No 0 1 2 3 4
19 Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler mendukung
pengembangan branding sekolah.
Keterangan
0 – Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler tidak terkait dengan pengembangan branding
1 – kegiatan ekstrakurikuler dilakukan menurut kebiasaan rutin semata-mata
2 – Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dengan memperhatikan minat penerima didik,
namun belum berkembang maksimal alasannya ialah keterbatasan sumber dana dan pelatih,
dan belum terarah pada pengembangan branding sekolah
4 – Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, baik yang bersifat akademik, seni, budaya, olah
raga diarahkan untuk menumbuhkan minat, bakat, dan bakat penerima didik yang
mendukung terbentuknya branding sekolah
No 0 1 2 3 4
20 Sekolah mendesain jadwal PPK dengan menyesuaikan
tahap perkembangan penerima didik (fisik, emosi, sosial,
kognitif, dan moral).
Keterangan
0 – Sekolah mendesain jadwal PPK tidak menyesuaikan dengan perkembangan peserta
didik
1 – Sekolah mendesain jadwal PPK hanya menyesuaikan perkembangan fisik/emosi/
sosial/kognitif/moral penerima didik semata
2 – Sekolah mendesain jadwal PPK dengan menyesuaikan perkembangan fisik dan
emosional saja
3 – Sekolah mendesain jadwal PPK dengan menyesuaikan tahap perkembangan fisik,
emosional, dan sosial penerima didik
4 – Sekolah mendesain jadwal PPK dengan menyesuaikan tahap perkembangan
penerima didik (fisik, emosi, sosial, kognitif dan moral) yang terwujud dalam bentukbentuk
kegiatan PPK, usang alokasi waktu dan relevansi jadwal sesuai dengan tahap
perkembangan penerima didik
No 0 1 2 3 4
21 Sekolah mempunyai kegiatan adaptasi untuk menanamkan
nilai-nilai utama PPK.
Keterangan
0 – Tidak mempunyai kegiatan pembiasaan
1 – Sekolah mempunyai minimal satu kegiatan adaptasi nilai-nilai utama PPK
2 – Sekolah mempunyai dua kegiatan adaptasi nilai-nilai utama PPK
3 – Sekolah mempunyai empat kegiatan adaptasi nilai-nilai utama PPK
4 – Sekolah mempunyai kegiatan adaptasi untuk menanamkan keseluruhan nilai-nilai
utama PPK (religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong dan integritas), kegiatan
adaptasi ini dilakukan oleh seluruh komunitas sekolah
3 – Kegiatan-ekstrakurikuler dilakukan dengan memperhatikan minat, bakat dan talenta
penerima didik dan didukung sumber dana dan instruktur yang baik namun belum
terarah pada pengembangan branding sekolah
21
No 6. PENGEMBANGAN DALAM PEMBELAJARAN 0 1 2 3 4
22 Guru mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK dalam desain
planning pelaksanaan pembelajaran (RPP).
pembelajaran terstruktur disertai model penilaian yang relevan
No 0 1 2 3 4
23 Guru mengembangkan skenario pembelajaran yang dapat
memperkuat nilai-nilai karakter.
Keterangan
0 – Guru tidak mengembangkan skenario pembelajaran yang inovatif
1 – Guru mengembangkan skenario pembelajaran yang kreatif dan inovatif, tetapi belum
mengaitkan dengan kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler, atau ekstrakurikuler
2 – Guru mengembangkan skenario pembelajaran yang kreatif dan inovatif, mengaitkan
kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler
3 – Guru mengembangkan skenario pembelajaran yang kreatif dan inovatif, mengaitkan
kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler, bahkan ekstrakurikuler
4 – Guru mengembangkan skenario pembelajaran yang kreatif dan inovatif, mengaitkan
kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler, bahkan ekstrakurikuler, serta mengaitkan
dengan konteks kehidupan nyata.
No 0 1 2 3 4
24 Guru mengaitkan isi materi pembelajaran dengan
duduk kasus kehidupan sehari-hari.
sesuai dengan perkembangan usia siswa.
3 – Guru mengaitkan isi pembelajaran dengan persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari
dan memperkaya dengan tugas-tugas pemecahan kasus sehari-hari.
4 – Guru mengaitkan isi pembelajaran dengan persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari
dan memperkaya dengan tugas-tugas pemecahan kasus sehari-hari sesuai dengan
perkembangan usia siswa.
Keterangan
0 – Tidak ada guru yang mengintegrasikan nilai utama PPK dalam RPP
1 – 25 persen guru mengintegrasikan nilai-nilai PPK di dalam RPP melalui skenario
pembelajaran terstruktur disertai model penilaian yang relevan
2 – 50 persen guru mengintegrasikan nilai-nilai PPK di dalam RPP melalui skenario
pembelajaran terstruktur disertai model penilaian yang relevan
3 – 75 persen gurumengintegrasikan nilai-nilai PPK di dalam RPP melalui skenario
pembelajaran terstruktur disertai model penilaian yang relevan
4 – Semua guru mengintegrasikan nilai-nilai PPK di dalam RPP melalui skenario
Keterangan
0 – Guru tidak mengaitkan isi pembelajaran dengan duduk kasus kehidupan sehari-hari
1 – Guru mengaitkan isi pembelajaran dengan persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari
2 – Guru mengaitkan isi pembelajaran dengan persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
22 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
No 0 1 2 3 4
25 Sekolah mengembangkan kapasitas guru secara
berkelanjutan (pelatihan, lesson studies, berbagi
pengalaman, dan lain-lain).
Keterangan
0 – Sekolah tidak melaksanakan pengembangan kapasitas guru
1 – Sekolah melaksanakan pembinaan guru dalam pengembangan pembelajaran atas
seruan dari luar
2 – Sekolah melaksanakan pembinaan guru dalam pengembangan pembelajaran atas inisiatif
sekolah
3 – Sekolah melaksanakan pengembangan guru dalam pengembangan pembelajaran
secara berkelanjutan atas inisiatif sekolah
4 – Sekolah mempunyai planning dan sistem manajemen pengembangan guru dalam
pembelajaran secara berkelanjutan atas inisiatif sekolah, dan dilaksanakan secara
efektif
No 7. PENGEMBANGAN BUDAYA SEKOLAH 0 1 2 3 4
26 Sekolah mempunyai dan mengembangkan tradisi-tradisi
unggulan yang memperkuat budaya sekolah.
Keterangan
0 – Sekolah tidak mempunyai dan mengembangkan tradisi unggulan
1 – Sekolah mempunyai dan mengembangkan tradisi-tradisi unggulan yang hanya
memperkuat salah satu dimensi saja (kolaborasi, komunikasi, budaya belajar, dan
kreativitas)
2 – Sekolah mempunyai dan mengembangkan tradisi-tradisi unggulan yang memperkuat
kerja sama dan komunikasi saja
3 – Sekolah mempunyai dan mengembangkan tradisi-tradisi unggulan yang memperkuat
kolaborasi, komunikasi dan budaya belajar
4 – Sekolah mempunyai dan mengembangkan tradisi-tradisi unggulan yang memperkuat
kolaborasi, komunikasi, budaya berguru dan penumbuhan kreativitas
No 0 1 2 3 4
27 Sekolah mengembangkan dan mengapresiasi kearifan
lokal.
Keterangan
0 – Sekolah tidak mengembangkan dan mengapresiasi kearifan lokal
1 – Sekolah melaksanakan analisis wacana kearifan lokal dan belum menciptakan telaah kritis
3 – Sekolah melaksanakan analisis wacana kearifan lokal, menelaah dan mengevaluasinya
secara kritis dan mengembangkan jadwal ini dengan mengintegrasikannya pada
beberapa unsur pembelajaran
4 – Sekolah melaksanakan analisis wacana kearifan lokal yang ada di daerahnya, menelaah
dan mengevaluasi kearifan lokal secara kritis, dan mengembangkan tradisi dan
atasnya
2 – Sekolah melaksanakan analisis wacana kearifan lokal, menelaah dan mengevaluasinya
secara kritis, namun belum mengembangkan dan mengintegrasikan dalam
pembelajaran
23
nilai-nilai kebaikan keutamaan lokal melalui pengembangan jadwal pendidikan
di sekolah dan mengintegrasikannya dalam keseluruhan proses berguru mengajar
(metode pengajaran, pengelolaan kelas, dan penguatan materi kurikulum)
No 0 1 2 3 4
28 Sekolah mengembangkan budaya berguru yang
menumbuhkan keterampilan kala 21 (berpikir kritis, kreatif,
komunikasi dan kolaborasi, literasi multimedia).
Keterangan
0 – Sekolah tidak mengembangkan budaya berguru yang menumbuhkan keterampilan
abad-21
1 – Sekolah mengembangkan budaya berguru yang menumbuhkan hanya satu
keterampilan abad-21 saja (berpikir kritis/kreatif/komunikatif/kolaborasi/literasi
multimedia)
2 – Sekolah mengembangkan budaya berguru yang menumbuhkan keterampilan abad-
21, namun tidak terintegrasi dalam pembelajaran
3 – Sekolah mengembangkan budaya berguru yang menumbuhkan keterampilan abad-21
dan terintegrasi di dalam pembelajaran saja, tanpa melibatkan masyarakat
4 – Sekolah mengembangkan budaya berguru yang menumbuhkan keterampilan abad-
21 (berpikir kritis, kreatif, komunikasi, kerja sama dan literasi multimedia), baik di
dalam pembelajaran maupun dalam pengembangan budaya sekolah dan kerja sama
dengan masyarakat.
No 0 1 2 3 4
29 Bimbingan konseling mempunyai program-program yang
relevan yang mendukung penguatan PPK di tingkat
kelas, pengembangan budaya sekolah, dan pelibatan
masyarakat.
Keterangan
0 – Bimbingan Konseling tidak menciptakan jadwal terkait PPK
1 – Bimbingan konseling mengembangkan kegiatan untuk mendampingi pembelajaran
di kelas saja
2 – Bimbingan konseling mengembangkan kegiatan untuk peningkatan pembelajaran di
kelas dan mempunyai jadwal pengembangan budaya sekolah secara jelas
3 – Bimbingan konseling mengembangkan kegiatan untuk peningkatan pembelajaran di
kelas dan mengembangkan budaya sekolah secara terang dan melibatkan pendidik lain
4 – Bimbingan konseling mempunyai program-program relevan yang mendukung penguatan
PPK di tingkat kelas, pengembangan budaya sekolah, melibatkan pendidik lain dan
pelibatan masyarakat. Ini dilihat dari banyak sekali macam kegiatan yang dilakukan oleh
Bimbingan Konseling sekolah.
No 8. PARTISIPASI MASYARAKAT 0 1 2 3 4
30 Sekolah mengembangkan kapasitas orangtua, paguyuban
wali murid dan komite sekolah biar mereka sanggup berfungsi
secara efektif dalam mendukung dan memperkuat program
PPK di sekolah melalui proteksi pikiran, tenaga, materi,
dan finansial.
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
24 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Keterangan
0 – Komite sekolah dan orang bau tanah tidak memperoleh pengembangan kapasitas dalam
rangka PPK di sekolah
1 – Komite sekolah/orang bau tanah hanya memperoleh isu dan sosialisasi saja tentang
PPK
2 – Sekolah hanya memberi sosialisasi wacana PPK pada orang bau tanah dan komite sekolah
namun belum melibatkan mereka dalam keseluruhan program
3 – Sekolah mengembangkan kapasitas orangtua, paguyuban wali murid dan komite
sekolah hanya dari sisi finansial saja
4 – Sekolah mengembangkan kapasitas orangtua, paguyuban wali murid dan komite
sekolah biar mereka sanggup berfungsi secara efektif dalam mendukung dan
memperkuat jadwal PPK di sekolah melalui proteksi pikiran, tenaga, materi, dan
finansial
No 0 1 2 3 4
31 Komite sekolah berperan aktif dalam mendukung program
PPK.
Keterangan
0 – Komite Sekolah tidak berperan secara aktif
1 – Komite sekolah ada, namun hanya berfungsi sebagai komplemen manajemen tata
kelola sekolah saja
2 – Komite sekolah berperanan secara aktif mendukung jadwal PPK dengan
mempergunakan sumber daya internal yang mereka miliki saja
3 – Komite sekolah berperanan secara aktif mendukung jadwal PPK dengan
mempergunakan sumber daya internal yang mereka miliki, dan mempunyai perjuangan untuk
mencari proteksi dari masyarakat di luar sekolah
4 – Komite sekolah mempunyai peranan aktif dalam mendukung jadwal PPK dengan
mempergunakan sumberdaya internal yang mereka miliki, menjadi penghubung
antara sekolah dan masyarakat, dan mendukung kinerja Kepala Sekolah dan mampu
merealisasikan kerja sama itu melalui program-program PPK yang didesain oleh
sekolah
No 0 1 2 3 4
Keterangan
0 – Tidak ada pelibatan masyarakat
1 – Sekolah hanya melibatkan orangtua dalam pengembangan PPK ( minimal 1 unsur
masyarakat)
2 – Sekolah melibatkan orang tua, Komite dan tokoh masyarakat (minimal 3 unsur
masyarakat)
3 – Sekolah melibatkan orang tua, komite sekolah, tokoh masyarakat, dan perguruan
tinggi (minimal 4 unsur masyarakat)
4 – Seluruh potensi partisipasi pengembangan PPK yang tersedia di dalam masyarakat
32 Ada pelibatan masyarakat (paguyuban orang bau tanah siswa,
komite sekolah, tokoh masyarakat, pelaku seni dan budaya,
DU/DI, perguruan tinggi, ikatan alumni, media dan lembaga
pemerintah, dan lain-lain) dalam kegiatan Penguatan
Pendidikan Karakter.
25
No 0 1 2 3 4
33 Masyarakat aktif memperlihatkan umpan balik dalam rangka
penilaian dan perbaikan pelaksanaan PPK.
Keterangan
0 – Tidak ada mekanisme umpak balik dalam rangka penilaian dan perbaikan pelaksanaan
PPK
1 – Masyarakat yang terlibat aktif memperlihatkan umpan balik dalam rangka penilaian PPK di
sekolah hanya Komite sekolah
2 – Masyarakat yang terlibat aktif memperlihatkan umpan balik dalam rangka penilaian PPK
disekolah selain Komites Sekolah, juga melibatkan orang bau tanah secara pribadi maupun
paguyuban orang tua/wali murid
4 – Masyarakat (seluruh pemangku kepentingan pendidikan) sesuai dengan tugas
peranannya masing-masing, aktif memperlihatkan umpan balik dalam rangka evaluasi
dan perbaikan pelaksanaan PPK di unit sekolah melalui mekanisme yang terstruktur
dan dilakukan secara rutin
No 0 1 2 3 4
34 Sekolah memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran di
luar lingkungan sekolah secara maksimal dan efektif.
dan dimanfaatkan secara maksimal dan efektif dalam rangka pengembangan program
PPK
4 – Seluruh potensi sumber-sumber pembelajaran yang ada di luar sekolah telah
dimanfaatkan secara maksimal dan efektif dalam rangka pengembangan program
PPK
No 0 1 2 3 4
35 Sekolah mempunyai sumber-sumber pendanaan dari
masyarakat untuk mengembangkan PPK.
Keterangan
0 – Sekolah Tidak mempunyai sumber-sumber pendanaan PPK dari masyarakat
(paguyuban orang bau tanah siswa, komite sekolah, tokoh masyarakat, pelaku seni dan
budaya, DU/DI, perguruan tinggi, ikatan alumni, media, dan forum pemerintah,
dan lain-lain) telah dipergunakan secara maksimal untuk keberhasilan jadwal PPK
di sekolah dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan yang ada.
3 – Masyarakat yang terlibat aktif memperlihatkan umpan balik dalam rangka penilaian PPK di
sekolah selain komite sekolah, melibatkan orang bau tanah secara pribadi, paguyuban
orang tua/wali murid, juga melibatkan perguruan tinggi/organisasi masyarakat sipil/
DU/DI, media massa, dan lain-lain, meskipun belum terstruktur dalam sistem sekolah.
Keterangan
0 – Sekolah tidak memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran di luar lingkungan sekolah
1 – Sekolah hanya memanfaatkan satu sumber pembelajaran di luar lingkungan sekolah
(misal, museum, sanggar seni, dan lain-lain)
2 – Sekolah memanfaatkan minimal tiga sumber pembelajaran di luar lingkungan sekolah
3 – Sekolah memanfaatkan minimal lima sumber pembelaaran di luar lingkungan sekolah
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
26 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
1 – Sekolah hanya mengandalkan dana PPK dari orang bau tanah dan pemerintah
2 – Sekolah mengandalkan dana PPK dari orang bau tanah dan pemerintah, serta kerja sama
dengan komite sekolah untuk mencari dana yang dibutuhkan namun belum tersistem/
spontan
3 – Sekolah mengandalkan dana PPK dari orang tua, pemerintah dan kerja sama dengan
komite sekolah secara tersistem untuk mengembangkan forum pendidikan
4 – Sekolah mempunyai banyak sumber pendanaan untuk mengembangkan PPK dari
masyarakat, keterlibatan masyarakat dalam pengembangan PPK dibentuk dalam sebuah
perjanjian kerja sama yang transparan dan akuntabel.
No 9. IMPLEMENTASI NILAI-NILAI UTAMA 0 1 2 3 4
36 Sekolah mempunyai kegiatan untuk mengembangkan
dimensi religiusitas penerima didik sesuai dengan agama
dan kepercayaannya, menumbuhkan sikap toleran
dan kemampuan bekerja sama antarumat beragama dan
penganut kepercayaan.
Keterangan
0 – Sekolah tidak mempunyai kegiatan keagamaan selain melalui mata pelajaran Pendidikan
Agama dan Budi pekerti
1 – Pembiasaan-pembiayaan dalam kegiatan agama masih bersifat ritual dan terkait
dengan tata cara peribadatan saja, masing-masing agama dan keyakinan melakukan
kegiatan sendiri-sendiri
2 – Kegiatan-kegiatan keagamaan mengajak penerima didik untuk memahami makna ritual/
tata peribadatan dan ajaran-ajaran agama dan kepercayaan secara lebih mendalam,
mengajak penerima didik mencari titik temu dari fatwa agama dan kepercayaan masingmasing
untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antar umat beragama
3 – Sekolah memberi kesempatan pada penerima didik untuk mengamalkan fatwa agama
dan kepercayaan dalam konteks kehidupan yang lebih luas, membangun kerja sama
antarpemeluk agama dan kepercayaan, meningkatkan sikap toleransi dalam
tindakan dan perkataan
4 – Sekolah mempunyai kegiatan untuk mengembangkan dimensi religiusitas penerima didik
sesuai dengan agama dan keyakinannya, mempunyai jadwal untuk menumbuhkan
semangat toleransi dan saling menghormati antar pemeluk agama dan keyakinan,
memperlihatkan banyak pengalaman pada penerima didik untuk berjumpa, bergaul,
erat dan mengenal penerima didik yang beragama dan berkepercayaan lain.
Situasi persaudaraan, toleransi, kerja sama dan kerja sama sudah menjadi budaya di
lingkungan sekolah dan sanggup dirasakan seluruh anggota komunitas sekolah.
No 0 1 2 3 4
37 Sekolah mengembangkan kegiatan-kegiatan yang
menumbuhkan semangat nasionalisme.
Keterangan
0 – Sekolah tidak mempunyai kegiatan yang menumbuhkan semangat nasionalisme
1 – Sekolah melaksanakan kegiatan rutin upacara bendera, menyanyikan lagu-lagu nasional
dan tempat setiap kali mengakhiri pembelajaran di sekolah
2 – Sekolah mempunyai kegiatan rutin dan mengembangkan kegiatan-kegiatan kreatif lain
untuk mengembangkan semangat nasionalisme dalam diri penerima didik
3 – Sekolah mempunyai kegiatan rutin, mengembangkan kegiatan-kegiatan kreatif lain untuk
27
No 0 1 2 3 4
38 Sekolah mengembangkan kegiatan-kegiatan yang
menumbuhkan kemandirian penerima didik.
Keterangan
0 – Sekolah tidak mempunyai kegiatan untuk menumbuhkan kemandirian penerima didik
1 – Sekolah mengembangkan pembiasaan-pembiasaan kecil untuk menumbuhkan
kemandirian penerima didik
2 – Sekolah mengembangkan pembiasaan-pembiasaan untuk menumbuhkan
kemandirian penerima didik, mempunyai jadwal rutin sekolah untuk menumbuhkan
kemandiran penerima didik
3 – Sekolah mengembangkan pembiasaan-pembiasaan untuk menumbuhkan
kemandirian penerima didik, mempunyai jadwal rutin dan non rutin sekolah untuk
menumbuhkan kemandirian penerima didik
4 – Di lingkungan sekolah muncul banyak sekali macam inisiatif dari penerima didik untuk
menumbuhkan semangat kemandirian, sekolah memperlihatkan pendampingan dan
proteksi melalui jadwal dan kegiatan yang semuanya dikelola, dikoordinasi dan
dilakukan secara berdikari oleh penerima didik yang melibatkan komunitas sekolah
maupun masyarakat
No 0 1 2 3 4
39 Sekolah mengembangkan kegiatan dan jadwal yang
merepresentasikan semangat gotong royong.
Keterangan
0 – Sekolah tidak mempunyai kegiatan dan jadwal untuk mengembangkan semangat
gotong royong
1 – Sekolah mempunyai jadwal di masing-masing kelas untuk menumbuhkan semangat
gotong royong
2 – Sekolah mempunyai jadwal di masing-masing kelas dan di lingkungan sekolah untuk
menumbuhkan semangat gotong royong
3 – Sekolah mempunyai jadwal dan masing-masing kelas, di lingkungan sekolah, dan di
luar sekolah untuk menumbuhkan semangat gotong royong
4 – Sekolah mempunyai banyak sekali macam jadwal dan kegiatan untuk menumbuhkan
semangat gotong royong, baik di dalam kelas, di lingkungan sekolah, di masyarakat,
yang melibatkan partisipasi aktif seluruh warga sekolah. Semangat gotong royong,
pundak membahu telah menjadi budaya dan sanggup dirasakan oleh seluruh anggota
komunitas sekolah
mengembangkan semangat nasionalisme dalam diri penerima didik yang melibatkan
orang bau tanah dan masyarakat sekitar
4 – Sekolah mengembangkan kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan semangat
nasionalisme dalam diri penerima didik melalui banyak sekali macam kegiatan rutin,
pembiasaan, dan kegiatan kreatif yang melibatkan pemangku kepentingan di luar
sekolah, semangat nasionalis dan rasa cinta bangsa terasakan di lingkungan fisik,
dan budaya sekolah.
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
28 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
No 10. EVALUASI PPK 0 1 2 3 4
40 Sekolah mempunyai norma-norma dan peraturan yang baik
untuk menumbuhkan nilai-nilai integritas dan kejujuran
dalam diri penerima didik.
Keterangan
0 – Sekolah tidak mempunyai norma, peraturan dan kegiatan untuk menumbuhkan nilai
integritas
1 – Sekolah hanya mempunyai norma dan hukum tertulis saja, tapi tidak efektif
diimplementasikan di lapangan
2 – Sekolah mempunyai norma dan peraturan, namun belum mendukung bertumbuhnya
nilai integritas alasannya ialah peraturan yang tidak jelas
3 – Sekolah mempunyai norma-norma dan peraturan yang mendukung bertumbuhnya nilai
integritas
4 – Sekolah mempunyai norma-norma, peraturan dan kegitan/program yang mendukung
bertumbuhnya nilai-nilai integritas bagi seluruh anggota komunitas sekolah, terutama
bagi penerima didik. Peraturan diterapkan dengan konsisten, sistem pemberian sanksi
dan apresiasi mendukung bertumbuhnya nilai-nilai integritas.
No 0 1 2 3 4
41 Sekolah mempunyai instrumen untuk mengukur dan
mendokumentasikan keberhasilan jadwal PPK dengan
indikator yang jelas.
Keterangan
0 – Sekolah tidak mempunyai instrumen untuk mengukur dan mendokumentasikan PPK
1 – Sekolah hanya mempunyai satu instrumen atau melaksanakan dokumentasi saja terhadap
kegiatan PPK
2 – Sekolah mempunyai instrumen penilaian yang indikator keberhasilannya dibentuk terang dan
dibentuk terang dan sanggup dievaluasi secara objektif, sudah terdokumentasi dengan baik,
namun belum lengkap
4 – Sekolah mempunyai banyak sekali macam instrumen penilaian yang baik dan dokumentasi
lengkap (proposal, penilaian pelaksanaan, laporan pertanggungjawaban, foto, video,
dan lain-lain) dalam setiap kegiatan pengembangan PPK
No 0 1 2 3 4
42 Kepala sekolah, guru, orang tua, dan komite sekolah
melaksanakan kegiatan monitoring PPK secara rutin dan
berkelanjutan.
Keterangan
0 – Kepala Sekolah, guru, orangtua dan komite sekolah tidak melaksanakan monitoring PPK
1 – Hanya kepala sekolah saja yang melaksanakan kegiatan monitoring PPK secara rutin dan
berjelanjutan
2 – Hanya kepala sekolah dan guru saja yang melaksanakan kegiatan rutin monitoring secara
berkelanjutan
sanggup dievaluasi secara objektif, namun belum terdokumentasi dengan baik
3 – Sekolah mempunyai beberapa instrumen penilaian yang indikator keberhasilannya
29
3 – Hanya Kepala Sekolah, guru saja dan Komite sekolah yang melaksanakan kegiatan rutin
monitoring
No 0 1 2 3 4
43 Sekolah mempunyai mekanisme umpan balik di antara peserta
didik untuk memperbaiki sikap individu dan budaya
sekolah.
Keterangan
0 – Siswa tidak dilibatkan dalam penilaian PPK
1 – Sekolah mempunyai mekanisme umpan balik secara spontan
2 – Sekolah mempunyai mekanisme umpan balik secara teratur dan siswa merasa nyaman
melakukannya
3 – Sekolah mempunyai mekanisme umpan balik secara teratur dan siswa merasa nyaman
melakukannya, masukan rekan sebaya mendukung perubahan perilaku
4 – Sekolah memberi kesempatan pada masing-masing penerima didik untuk memberikan
No 0 1 2 3 4
44 Sekolah menindaklanjuti hasil monitoring dan evaluasi
untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan PPK.
Keterangan
0 – Sekolah tidak merespons hasil monitoring dan evaluasi
1 – Sekolah menindaklanjuti monitoring dan penilaian ala kadarnya, tanpa perencanaan
2 – Sekolah menindaklanjuti monitoring dan penilaian secara rutin dan menentukan
langkah-langkah perubahan
3 – Sekolah menindaklanjuti monitoring dan evaluasi, memilih langkah-langkah
perubahan, menciptakan prioritas perbaikan
4 – Sekolah menindaklanjuti hasil monitoring dan penilaian secara rutin, menentukan
langkah-langkah perubahan, menciptakan prioritas-prioritas perbaikan, dan memiliki
sistem pertanggungjawaban yang sanggup dikontrol oleh komunitas sekolah
No 0 1 2 3 4
45 Sekolah mempergunakan dokumentasi dan data-data
pendukung (presensi siswa, catatan harian sekolah,
notulensi rapat, dan lain-lain) untuk menilai pelaksanaan
dan keberhasilan jadwal PPK
Keterangan
0 – Sekolah tidak mempunyai dokumentasi pelaksanaan PPK
1 – Sekolah hanya mempunyai sebagian dokumentasi jadwal dan tidak digunakan untuk
menilai PPK
4 – Kepala sekolah, guru, orang bau tanah dan Komite sekolah secara rutin dan berkelanjutan
terlibat dalam memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan PPK di sekolah
masukan satu sama lain untuk memperbaiki sikap individu melalui mekanisme
yang ramah dan bersahabat, siswa merasa nyaman memperlihatkan kritik, masukan dan
penilaian terhadap budaya yang ada di lingkungan pendidikan, dan budaya
perbaikan diri terus menerus terjadi di lingkungan sekolah
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
30 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2 – Sekolah mempunyai beberapa dokumentasi jadwal PPK namun belum menggunakan
secara maksimal sebagai data pendukung untuk menilai PPK
4 – Sekolah mempunyai banyak sekali macam format dokumentasi (cetak, tertulis, multimedia)
untuk mendokumentasi kan setiap kegiatan PPK dan mempergunakan data-data
pendukung untuk menilai pelaksanaan dan keberhasilan jadwal PPK.
No 0 1 2 3 4
46 Sekolah melibatkan seluruh sumber daya insan yang
tersedia dalam PPK.
Keterangan
0 – Sekolah hanya melibatkan guru dan tidak melibatkan pemangku kepentingan lain
1 – Sekolah melibatkan personalia di internal sekolah saja (guru, siswa, tenaga
kependidikan, karyawan)
2 – Sekolah melibatkan personalia di internal sekolah dan eksternal sekolah (orang tua,
masyarakat) namun keterlibatan masyarakat ini masih merupakan inisiatif sekolah
3 – Sekolah melibatkan personalia di internal sekolah dan eksternal sekolah (orangtua,
masyarakat), ada program-program PPK yang muncul dari inisiatif dari sekolah dan
masyarakat
4 – Seluruh sumber daya insan di sekolah (pendidik, tenaga kependidikan,
karyawan, siswa, orang tua, masyarakat) terlibat secara aktif dan dilibatkan dalam
pengembangan penguatan pendidikan huruf melalui banyak sekali macam inisiatif
yang memperkaya pengalaman berguru penerima didik
No 0 1 2 3 4
47 Sekolah memakai sarana dan prasarana (lapangan
olah raga, alat-alat kesenian, dan lain-lain) secara efektif.
Keterangan
0 – Sekolah tidak memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada
1 – Sekolah hanya memanfaatkan satu sarana dan prasarana yang ada bagi penerima didik
2 – Sekolah memanfaatkan sarana dan prasarana untuk penerima didik dan guru
3 – Sekolah memanfaatkan sarana dan prasarana untuk penerima didik, guru dan anggota
komunitas sekolah serta menjaga dan merawat sarana dan prasarana tersebut secara
rutin
4 – Sekolah memanfaatkan dan mempergunakan sarana dan prasarana yang ada bagi
penerima didik, guru, orang bau tanah dan masyarakat secara efektif untuk mendukung
pelaksanaan PPK di sekolah
No 0 1 2 3 4
48 Sekolah memanfaatkan banyak sekali media pembelajaran PPK
(papan sekolah aman, poster, spanduk, website, buletin,
mading, dan lain-lain).
3 – Sekolah mempunyai banyak dokumen (cetak, tertulis) jadwal PPK dan
mempergunakannya untuk menilai keberhasilan PPK
31
Keterangan
0 – Tidak ada media satupun yang dimanfaatkan untuk media pembelajaran PPK
1 – Sekolah hanya memanfaatkan maksimal 2 media saja untuk pembelajaran PPK
2 – Sekolah memanfaatkan maksimal 5 media untuk pembelajaran PP
3 – Sekolah memanfaatkan maksimal 8 media untuk pembelajaran PPK
4 – Di lingkungan sekolah tampak dengan terang banyak sekali macam media dimanfaatkan
untuk pengembangan PPK, mulai dari papan nama sekolah aman, poster, spanduk,
website, buletin, majalan dinding, taman, dan lain-lain.
No 0 1 2 3 4
49 Gerakan PPK meningkatkan prestasi akademik dan
membangun budaya berguru mandiri.
Keterangan
0 – Tidak terjadi peningkatan, stagnan, atau malah menurun
1 – Terjadi peningkatan prestasi akademis pada sebagian kecil siswa (25 persen)
2 – Terjadi peningkatan prestasi akademis pada separuh siswa (50 persen)
3 – Terjadi peningkatan prestasi akademis pada sebagian besar siswa (75 persen)
4 – Terjadi peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah secara signifikan (100 persen).
Ini dibuktikan dengan adanya kenaikan nilai masing-masing individu dan naiknya nilai
rerata kelas per mata pelajaran, dan ditandai dengan bertumbuhnya gairah belajar
dalam diri penerima didik.
Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
32 Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Panduan penilaian Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang ada
di dalam naskah ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
dalam rangka memperkuat Pendidikan Karakter di lingkungan pendidikan.
Dokumentasi penting ini juga akan dilengkapi dengan modulmodul
pembinaan dalam rangka pengembangan kapasitas, baik itu untuk
kepala sekolah, guru, komite sekolah dan pengawas, sebagai pelaku
utama Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah.
Tim Penguatan Pendidikan Karakter telah mempersiapkan modulmodul
pembinaan yang lengkap, yaitu modul pembinaan 30 jam, maupun
12 jam. Modul pembinaan yang menyertai dokumen ini dibentuk dalam
struktur yang sederhana dan gampang dipraktikkan oleh para pelaku
PPK, baik sebagai bacaan berdikari untuk memperkuat pemahaman dan
implementasi PPK, maupun sebagai materi untuk memperlihatkan pelatihan
kepada para pelaku lain.
Dokumen yang belum tepat ini selalu terbuka untuk menerima
masukan, kritik dan saran demi perbaikan pelaksanaan PPK di masa yang
akan datang.
Semoga melalui buku ini, seluruh sekolah di Indonesia semakin
sanggup menerapkan PPK sesuai dengan keunikan dan kekhasan sekolah
dan tempat masing-masing sehingga pendidikan kita sungguh dapat
melahirkan individu yang unik, khas, dengan bakat dan bakat tertentu,
sebagai wujud dari kebhinekaan bangsa Indonesia yang kokoh, kuat,
berkarakter, mandiri, dan mempunyai jati diri khas sebagai bangsa Indonesia.
PENUTUP

Rekomendasi :   Soal Dan Kunci Jawab Siap Uts Semester 1 Bahasa Indonesia Kelas 2 Sd Terbaru

Demikian goresan pena wacana

Download Buku Saku Panduan Penilaian Penguatan Pendidikan Karakter pdf

Semoga bermanfaat dan salam sukses selalu!
Sumber http://www.informasiguru.com/